The road to Motherhood…

the struggles i'm facing… the chances i'm taking… sometimes might knock me down… But no, I'm not breaking…

Archive for bayi tabung

Disaat Kenyataan Tidak Seindah Impian (Starting another IVF treatment – Part 6)

Setelah dua minggu nunggu dan menunggu akhirnya datang juga si hari H.. Dengan perasaan deg2an setengah mati, aku sama hendra pagi-pagi ke lab buat blood test. Abis blood test kita nunggu di starbuck terdekat sambil nunggu telp kabar dari klinik. Mereka bilang sekitar 3 jam-an hasil darah udah keluar harusnya.

Yak bener aja nggak nyampe 3 jam, aku dapet telfon dari klinik… mereka ngabarin kalau HCG ku naik tapi nggak cukup tinggi untuk strong pregnancy di hari ke 14. So it’s on the way going up or going down… rasanya kaki lemeeeeessss banget.. i knew there’s still chance. Tapi rasanya aku tau aja, HCG ku lagi on the way going down which means kita nggak berhasil lagi. Jadi besok aku mesti dateng lagi ke lab buat test darah lagi dengan harapan HCG ku naik lagi besok. Dr. T juga suggest buat boost aku pake Intralipids lagi incase immune ku lagi fighting. Thank God I have such a great great great husband disamping ku yang selalu membuat aku kuat menghadapi berita buruk ini. I just knew if it’s meant to be then the embrio would stay.. otherwise I just have to be the strongest people on earth and face the fact that this time we failled again.

Besoknya aku dateng lagi ke klinik buat blood test dan intralipids. Test darah nunjukin kalau HCG aku turun lagi, tapi tetap belum konfirm negatif pregnancy nya. Tapi dokter udah warning this is not a good sign. Dan yang bikin tambah painfull, aku harus tetep datang ke klinik dan test darah terus sampai konfirm negatif pregnancy, karena ada small small chance kehamilan diluar kandungan kalau HCG nya nggak tinggi tapi nggak negatif juga. Huaaaaaa mo nangis rasanya… udah mix deh tuh semua rasa kecampur.. sedih banget karena IVF nggak berhasil, dan ada kemungkinan kehamilan diluar kandungan segala…

Hari ke tiga dateng lagi buat blod test HCG dan hasilnya HCG ku still nggak naik nggak turun. Dengan hasil seperti ini dokter sudah yakin kalau this is not going to be good. Aku disuruh pulang, berhenti semua obat, dan kalau dalam waktu satu minggu belum mens juga, disuruh dateng lagi dan blood test lagi untuk memastikan HCG nya udah konfirm negatif dan tidak ada ectopic pregnancy.

Somehow setelah blood test ketiga ini yang mengkonfirm kalo IVF kali ini sudah tidak berhasil, i was quite surprise dengan reaksi diri aku sendiri waktu itu. Nggak berasa apa-apa.. sedih dikit, kecewa dikit, tapi cuma pengen let it go, cepet-cepet mens just to confirm everything ok… kayaknya udah mati rasa deh itu saking sering nya gagal hehehe.. malah suami dan keluarga yang terus-terusan berusaha menghibur. Tapi semakin orang-orang disekitar aku berusaha menghibur dan membahas malah aku nya jadi kepikiran. Jadi akhirnya aku sama suami udah nggak ngebahas kegagalan IVF kita kali ini and choose to look forward dan tetap optimis. Seminggu kemudian aku udah mulai ngeflek tapi blom mens normal, akhirnya sama dokter tetep disuruh HCG test lagi dan Alhamdulillah kali ini hasilnya beneran negatif. Alhamdulillah berarti ngga ectopic pregnancy seperti yang dikhawatirkan sebelumnya. Dan besoknya aku udah mens normal yang sakitnya minta ampuuuuuun… ini udah di warning sama nurse nya, mens kali ini mungkin akan sakit karena dinding rahim ku udah dipersiapkan tebal buat embrio dan bleedingnya bakal heavy. bener aja sakit banget sampe nangis nangis dan harus minum pain killer… baru pas saat itu aku berasa sediiiiih banget dan nangis nangis… udah akumulasi dari semua rasa.. rasa sakit perut mens dan kecewa, sedih, dll karena usaha kita kali ini gagal… mimpi kita buat menggendong anak sendiri belum bisa jadi kenyataan anytime soon.

Satu bulan sesudah itu kita dapet follow up appointment dan kita ketemu Dr D. Few things yang mereka suspect penyebab kegagalan IVF kali ini adalah kualitas sperm dan immunologi aku. Dr D ngejelasin kalau keadaan yang aku alami kemarin mereka namakan biochemical pregnancy. HCG aku udah sempet raising but the embrio didn’t survive. Mostlikely penyebabnya adalah kelainan kromosom. Melihat kualitas sperm yang digunakan, sangat besar chance nya kromosom di sperm nya tidak sempurna atau kurang. dalam keadaan seperti itu soon or later akan terjadi misscariage juga. in terms of immunology, hari-hari terakhir sebelum HCG test aku ngerasa suhu badan aku agak naik dan berasa anget. ini pertanda badan aku lagi fighting and maybe fighting to harsh sehingga embrio nya kalah. untuk next time dokternya bilang aku bakal di boost intralipids earlier untuk menjinakan immun aku.

Thank God kita masih punya 4 embrio dengan very good quality di freezing. Jadi Dr menyarankan kita untuk menggunakan embrio tersebut karena masih ada chance buat berhasil. kalau itu karena kelainan kromosom di sperm, dokternya yakin kalau 1 diantara 6 embrio pasti ada yang memiliki kromosom yang lengkap dan bagus dan masih ada kemungkinan buat berhasil.

Untuk memulai IVF cycle baru lagi, dokter nya sangat tidak menyarankan  kecuali ada perubahan yang signifikan di kualitas sperm nya. kita di refer ke dokter andrologi dulu kalau mau mulai fresh cycle lagi.

Well that’s the end of it.. but we are sure that’s not the end of our dream.
We will still dream, we will still hope, we will still pray, we will still push ourselves and be optimistic… cos we know one day with God’s bless we will hold that tiny hands and hug a small little baby in our hands… our baby.. our own baby.

Jalan dan takdir kita sudah ditulis Allah di bukunya. Hanya doa dan usaha yang bisa merubah nya. So I will not stop here.. This is not the end of it.

Advertisements

Starting another IVF treatment – Part 5

Haaaa… sudah lama sekali pengen update Blog tapi belum sempet-sempet.. udah di draft sejak lama tapi baru sempet selesaiin sekarang…

Jadi lanjut sejak hari ke 12 stimulation dan triger injection, 2 hari kemudian aku masuk ke lagi ke ruang OP buat egg collection. Alhamdulillah semua berjalan lancar dan dr T berhasil memanen 21 telur which is a very great news. On the same day, para embriologi di klinik menganalisa telur dan unfortunately hanya 18 telur yang normal dan bisa di ICSI dengan sperma suami.  18 still a good number tough. Hari itu aku pulang dari egg collection biasa aja cuma ada sedikit rasa sakit tapi masih bisa di tahan pake pain killer biasa.

Hari kedua sesudah sel telur dan sperma suami ku nge-‘date’ di lab, embriologi telfon dan ngabarin ada 15 embrio yang fertilise and they fertilise nicely with 2-4 cells. Alhamdullillah walaupun berkurang tapi tetep masih besar harapan menuju embrio transfer. Mulai hari itu setiap pagi rasanya deg2an nungguin telfon dari embriologist yang ngabarin berapa embrio kita survive hari itu di lab. Mungkin kaya gini rasanya buat orang tua yang anaknya sakit dan mesti stay di rumah sakit tapi orang tuanya nggak boleh nemenin. I knowww it’s weird.. they are still embrios not yet a human or baby.. but it feels like there’s already emotional bond between those embrios and I.

Hari ketiga pagi2 ditelpon embriologist lagi, tinggal 11 embrio yang masih berkembang, yang lain berhenti berkembang. Karena ada lebih dari 2 embrio yang top notch dan berkembang dengan baik, mereka menyarankan kita untuk menunggu transfer di hari ke 5 pada saat embrio sudah menjadi blastocyst. Dengan harapan di hari ke 5 sudah terlihat at least 2 embrio yang paling unggul dan 2 embrio itu yang akan di kembalikan ke rahim. Resiko transfer di hari ke 5 adalah bisa saja semua embrio kita nggak berhasil berkembang menjadi blastocyst, dan kita ends up nggak bisa nerusin cycle karena nggak ada embrio tersisa yang bisa di transfer kembali, Kita setuju dengan saran embriologist dan menunggu hari ke 5 untuk embrio transfer dengan pikiran yakin at least 1 dari 11 embrio kita will make it to day 5.

Hari keempat nggak ada telfon dari embriologist, karena mereka bilang di hari ke 4 embrio lagi mulai membelah menjadi banyak sel dan bersiap2 menjadi blastocyst, jadi mereka nggak bisa kasih score dan report keadaan embrio pada saat itu.

Hari kelima embriologist menginstruksikan jangan berangkat ke klinik dulu sampai mereka telfon untuk konfirm kalau ada embrio yang berhasil mencapai blastocyst dan bisa embrio transfer. Tapi karena rumah kita jauh dan takes 1 jam at least to get to the clinic, akhirnya kita decide buat berangkat aja… dan tetep yakiiiinn pasti embrio kita survive dan kita bisa lanjut embrio transfer. Di tengah jalan embriologyst telfon, dan konfirm kalo ada 3 embrio yang sudah menjadi blastocyst dan siap buat transfer. Alhamdulillah…

Sampai di klinik kita dibrief sama embriologyst keadaan embrio kita.. Alhamdulillah mereka blastocyst dengan grade paling bagus. saat ini udah ada 3 yang menjadi blastocyst, yang lain masih mau ditunggu dulu sampai besok untuk decide apakah bisa difreezing atau tidak sisanya. Trus kita nungguin Dr. T yang akan ngelakuin embrio transfer nya langsung. Weirdly.. ini adalah pertama kalinya embrio transfer nggak pake di scan. Dr T bilang kalau pake scan bisa ngebuat posisi embrio yang sudah di transfer berubah. Dr T lebih percaya transfer pake pengukuran yang dia udah lakuin pas hysteroscopy. Sepanjang embrio transfer nggak berasa sakit, hanya sedikit uncomfortable dan cepet juga kira2 15 menit, trus tiduran sebentar kira2 15 menit trus baru boleh bangun dan pulang.

Besoknya, dokter minta aku dateng lagi buat infus intralipids. Intralipids ini katanya bisa menekan immunology dan membantu implantasi embrio.

Evidence from both animal and human studies suggest that intralipid administered intravenously may enhance implantation. Intralipid is a 20% intravenous fat emulsion used routinely as a source of fat and calories for patients requiring parental nutrition. It is composed of 10% soybean oil, 1.2% egg yolk phospholipids, 2.25% gylcerine and water. Intralipid stimulated the immune system to remove “danger signals” that can lead to pregnancy loss. The appeal of Intralipid lies in the fact that it is relatively inexpensive and is not a blood product.

source: http://www.illinoisivf.com/recurrent-pregnancy-loss/pre-implantation.html

Jadilah besoknya balik lagi nangkring di klinik 3 jam nungguin infusan intralipids abis. Oh iya, trus embriologyst dihari itu juga ngabarin kalau kita punya 4 nice blastocyst to be frozen. Unfortunately the rest of our embrios didn’t make it to blastocyst 😦

Selanjutnya sesudah itu adalah the dreaded 2 weeks wait. Untungnya pas banyak liburan natal dan tahun baru, jadi aku cuti full 2 minggu. di rumah tiduran aja bedrest. Semua suamiku yang ngapa2in.. mulai dari belanja, masak, nyuci, nyiapin makanku. So glad to have such a great husband 🙂 2 minggu rasanya lamaaaa banget.. nggak ngerasa tanda-tanda apa-apa selain badan ku agak anget di hari ke 7-8. Tapi karena nggak nyampe fever, aku nggak terlalu khawatir jadi didiemin aja.

Sedih juga we missed loads loads of Sale hehehe… soalnya pas abis natal, di sini sale nya gila2an dan biasanya kita belanja sana sini. Tapi karena demiiiii demiiiiii pengen yang terbaik buat embrio ku, akhirnya decide buat cuti dari sale tahun ini dan bedrest dirumah aja…

Nunggu 2 minggu rasanya kaya setahun..lama bangeett… hasil test nya dilanjutin di posting berikutnya yah biar gag kepanjangan 🙂

IVF Boot Camp (Starting another IVF treatment – Part 4)

Gyaaaa… posting kali ini judulnya IVF boot camp, karena it was literally what i feel for the last 2 weeks going through stimulation di ARGC.

Hari pertama aku dapet lagi setelah monitoring cycle, pas tanggal 1 dec. Tanggal 2 nya aku di mandat buat dateng lagi ke klinik untuk blood test dan scan. untuk memulai stimulation, FSH harus dibawah 10. katanya FSH ini meengindikasikan egg reserves kita. semakin rendah semakin bagus. Kalau FSH diatas 10, sebaiknya cycle nya ditunda ke bulan depannya.

Alhamdullilah FSH ku dibawah 10 dan kita good to go buat mulai stimulation. Sebelum stimulation dokter mandat lagi kalo aku harus hysteroscopy karena dia mau melihat keadaan lining of the womb dan make sure semua sel-sel nya bagus nggak ada polip dan lain-lain yang mungkin nanti menganggu pertumbuhan embrio. Apalagi setelah beberapa kali failled IVF, Dr T pengen to be sure nggak ada apa-apa.

Menuruti mandat dokter, D3 pagi-pagi buta dianter suami aku masuk ruangan op buat Hysteroscopy. Di bius total jam 7 pagi, nggak berasa apa-apa. sadar2 nggak berasa sakit juga cuma sedikit bleeding. Good news, hasil hysteroscopy bagus nggak ada apa-apa dan pathology test juga nggak dibutuhkan. Jam 11 siang nya udah keluar dari klinik dan langsung pulang tepar karena mungkin masih ada efek obat bius jadinya tidur seharian.

D5 blood test lagi paginya, dan siangnya ditelfon nurse kalo Dr T decide that it was the right time for me to start stimming.

Sedikit beda sama obat stimulasi yang aku pernah pake di cycle IVF sebelumnya, kali ini obatnya ada 2 Fostimon dan Merional both are injections. Kata nurse nya nanti di pake nya bergantian tergantung instruksi dokter hari itu berdasarkan hasil test darah pagi nya.

Trus mulai hari stimulation sampai egg collection, setiap pagi jam 7.30 aku udah harus di klinik buat blood test. in some days scan juga. seminggu terakhir blood test 2 kali sehari. yang kedua mungkin sekitar jam 12 siang. Pas hari itu dengernya sih kayaknya oke-oke aja dan sanggup lah ya, malah lega karena berarti Dr nya monitor very closely.

Tadaaa… when those days started.. kenyataan tidak seindah bayangan hahaha..
Tiap pagi harus bangun 4.30am. Mandi siap-siap gantian sama hendra.. kadang sarapan kadang kalo nggak sempet bawa yoghurt makan di train. Jam 6.30am kita dah harus cabut dari flat, nunggu bus ke train station, catch the fast train, change to underground, jalan dikit, dan finally 7.30am sampe di klinik. Okeh hari pertama masih semangat.. hari ke 3 baru berasa capeeeekk nya minta ampun. Malem-malem jam 7 jam 8 udah tumbang nggak kuat ngantuk banget… dan belom lagi itu klinik udah kayak drakula, tiap pagi diambil darah kayaknya bikin badan tambah lemes. The winter cold and snow doesnt help at all.. keluar rumah jam 6.30 masih gelap gulita. Tapi ini semua demiiiii… demiiii impian kita menggendong anak sendiri, akhirnya dengan pasrah dan ikhlas kita jalanin hari-hari ini.

Yang terjadi biasanya jam 7.30am blood test (setiap hari), abis itu lanjut scan (2 hari sekali). Sekitar jam 12 siang di telfon untuk instruksi dosis injection malamnya. So far aku selalu di dosis terendah untuk suntikan2 stimulasi obviously karena PCO ku jadi dokter harus hati2 biar aku nggak overstimulated. Mulai D7, aku mulai dapet instruksi buat hang around deket klinik sesudah scan/blood test pagi, karena kemungkinan aku mesti repeat blood test siangnya dan aku harus kembali ke klinik within 1 jam setelah mereka telfon. Jadilah sehari-hari aku nangkring di Starbuck terdekat menunggu telfon dari klinik.

Setelah beberapa hari stimming aku mulai ngeliat perbedaan nya dengan stimming di cycle2 sebelumnya. stimming kali ini di hari ke 4 folikel-folikel ku udah pada growing nicely 🙂 di cycle sebelumnya biasanya baru kelihatan kaya gini di hari ke 8-9 stimming. mungkin karena obatnya beda dan yang ini lebih cocok kali ya. Trus estrogen ku juga rising max sampe 10ribu while di cycle sebelum2nya bisa sampe 13ribu. jadi kali ini less bloated and feels much better.

Alhamdulillah akhirnya di hari ke 12 stimulation, Dr T decided it’s the time for trigger injection dan 36 jam sesudah trigger injection adalah waktunya egg collection yang insyaAllah sabtu besok ini. Semoga egg collection berjalan lancar.. bisa panen banyak telur dan yang paling penting mereka bisa fertilise dengan baik sampai saatnya nanti mereka kembalik ke rahim ku.

So far we feel like we are in a good hand. It does feels like a boot camp at the same time, but we realise at the end Dr T just want us to have a baby like we’ve always been dreaming of.

beberapa hal ;ain lagi yang berbeda so far dengan cycle2 sebelumnya:
– aku di prescribe Metformin at least harus dikonsumsi 8 minggu sebelum mulai treatment, karena dokternya percaya bahwa metformin meningkatkan kualitas sel telur
– Minum air minimal 4 liter per hari dan susu 1 liter perhari dimulai sejak D1 stimulation
– Dexamethosone diminum mulai stimulasi D5. Obat ini kata dokternya buat kontrol level of Natural Killer cells ku
– Aspirin dan Clexane injection setiap malam dimulai stimulasi D5 . Ini harus dikonsumsi setiap 12 jam. katanya sih blood thiner.

sekian dulu update nya.. semoga boot camp ini bener2 memberikan hasil yang aku sama hendra pengenin dan worthed at the end. nanti update-update lagi sesudah egg collection dan embrio transfer.

semangat yaaa buat semua yang trying for a baby 🙂

Starting another IVF treatment – Part 3

Hari pertama mens ku datang bulan Oktober 2010, aku langsung telfon ARGC dan bilang kalau aku siap buat mulai Monitoring Cycle. Mereka minta aku datang ke klinik buat blood test besoknya.

Di H2 monitoring cycle ku, mereka test satu paket hormon Estrogen, FSH, LH. At the same time mereka juga request aku buat arrange Immunology test dalam waktu dekat. Tadinya mau test hari itu juga, tapi nggak bisa karena test HIV dan Hepatitis aku dan hendra belum di verified sama GP.

Di hari yang sama mereka minta Miku buat arrange Sperm Freezing, buat back up pada saat hari egg collection nanti kalau kalau sperm nya nggak cukup.

Siang-siang nya ARGC telfon, dan bilang hasil test darah ku normal. mereka minta aku datang lagi H11 untuk test darah lagi dan usg untuk melihat keadaan rahim pada saat masa ovulasi.

Besoknya, pas aku udah dapet verifikasi hasil test HIV dan hepatitis dari GP, aku balik lagi ke klinik ARGC buat Immunology test. Immunology test bisa dilakukan anyday on the cycle, jadi nggak tergantung dengan level hormon. Mereka mem-brief aku tentang immunology test ini, dimana yang terpenting adalah level cytokine dan natural killer cells harus berada di range yang normal sebelum mulai treatment. Kalau cytokine terlalu tinggi, aku harus go through treatment selama 5-10 minggu yang berarti men-delay cycle IVF. Kalau natural killer cells bisa diobati pada saat bersamaan treatment.. jadi nggak membuat cycle IVF tertunda.

10 hari sesudah immunology test, ARGC telfon dan report kalo cytokine ku normal (alhamdulillah) dan natural killer cells hampir semua normal, tapi ada beberapa yang agak tinggi dan Dr. T nggak terlalu khawatir soal itu. Nanti pada saat treatment dikasih obat dikit aja harusnya sudah cukup. Dengan hasil Immunology test aku yang ok, aku good to go buat mulai cycle IVF. Sekarang tinggal menunggu hasil scan dan blood test H11 prediksi masa ovulasi.

H11, aku dateng lagi ke klinik buat USG dan test darah. Dari hasil USG terlihat PCO ku sudah kembali lagiiiii… hiks sedihnya.. dan Dr. Dimitri predict kalau bulan ini kayaknya aku nggak ovulasi ngelihat keadaan sel telur sekarang. Tapi Dr. D baik banget dan meyakinkan kalau nggak masalah sama sekali buat IVF, kita tetep bisa go ahead. Siang nya ARGC telp lagi. Dr. T request aku buat sekali lagi USG H17 just incase aku late ovulation dan again go through blood test (Estrogen level).

H17 aku balik lagi ke klinik, dan kali ini scan dengan dokter yang aku nggak denger jelas namanya siapa. Aku personally nggak gitu suka sama dia *hiks* abisan pas nge-USG agak-agak kasar. Again pas di USG keliatan kalau nggak ada telur yang besar dan cukup matang buat dibuahi… ini pertanda kalo aku kayaknya memang nggak ovulasi seperti perkiraan Dr. D terakhir kali. Tapi dia bilang tunggu aja hasil darah nanti sore. Kalau ada peningkatan mungkin masih ada harapan buat ovulasi beberapa hari lagi dan sebaiknya ditunggu. Dr ini juga advise aku buat pick up obat downregulation hari ini. karena kalau tidak ada tanda2 ovulasi dari hasil test darah, mereka akan instruksi aku buat langsung downregulate.

Bener aja, siangnya dapet telfon dari ARGC. Berdasarkan hasil test darah aku, Dr. T ngeliat kayaknya aku nggak akan ovulating bulan ini. Jadi dia instruksi buat aku mulai downregulate pake Nasalspray nya kalau aku udah siap mau mulai treatment di cycle ini.

So theree.. setelah cukup intense mondat mandir klinik di masa monitoring ini, akhirnya aku mulai juga IVF cycle ku. Bismillah… semoga semua berjalan lancar dan berhasil…. semoga diberikan cukup kekuatan buat ngejalanin semuanya.. Amiiinnn…

Next schedule, senin besok tgl 15 Nov, aku ke klinik buat USG lagi dan prediksi kapan aku bisa mulai stimulation. selain itu aku juga harus ikut teaching session suntik menyuntik untuk persiapan stimulasi. On top of that, mungkin mereka schedule aku buat Hysteroscopy akhir-akhir minggu depan. nanti cerita-cerita lagi di part selanjutnya 😀

baby dust for everyone who’s trying for a baby…. ******

Starting another IVF treatment – Part 2

Setalah menunggu-menunggu… akhirnya dateng juga hari H buat initial appointment kita di ARGC.

1. first impression tentang keadaan diluar klinik; deket dari tube station, parkiran susah jadi kalo mau bawa mobil mikir2, deket dari restoran-restoran kalo laper bisa lah makan dulu, banyak banget orang middle east yang seliweran kayaknya ke private klinik di Harley Street. Jadi ARGC ini lokasinya sebelahan dengan Harley Street.

2. Begitu masuk ke dalem klinik, agak-agak bingung… soalnya lebih berasa ke rumah orang daripada ke rumah sakit. Nah disini baru deh kita ngerti sama yang dibilang orang kalo fasilitasnya nggak ok. Ruang tunggunya agak2 berantakan, trus ruang receptionnya rame banget orang mondar mandir dan terlihat kurang terkordinasi. Tapi untungnya kita nggak harus nunggu lama-lama di ruang reception & ruang tunggu.

3. initial appointment kita ketemu Dr. Rannieri. Dr. R ini terlihat amat sangat senior dari penampilannya dan pembawaannya kalem banget. ngobrol-ngobrol lebih lanjut ternyata dia tinggal di deket rumah kita dan tiap pagi naik kereta yang sama sama Hendra ke London hehehe.. yah kebetulan yang nggak penting 🙂
Nah si Dr. R mereview semua history kita dan nanya-nanya tentang cycle kita sebelumnya. sesudah mereview, dia merekomend protocol treatment kita secara garis besar dan bilang bisa kapan aja mulai kalau kita sudah merasa siap. garis besar protokol treatment yang dia buat untuk kita adalah sebagai berikut:

  1. Monitoring cycle – ini isinya blood test dan usg di hari-hari tertentu cycle aku untuk memonitor apa yang terjadi pada saat itu sebagai referensi pada saat treatment nantinya. ideally dilakukan sedekat mungkin dengan treatment cycle, seperti 1 period sebelumnya.
  2. Immunology test & treatment. Karena kegagalan kita di cycle2 sebelumnya, Dr. R suggest kita buat go through treatment ini. Main test dari immunology test adalah mengetest level cytokine dan natural killer cells melalui darah kita. Unik nya tes ini harus dilakukan di lab di Chicago, US. Jadi di hari H, darahku akan diambil 18 vial dan dikirim ke Chicago. kemudian kita menunggu hasil testnya 2-3 minggu. Kalau ada yang terlalu tinggi, mesti di treatment dulu 5-10 minggu sebelum bisa mulai IVF cycle.
  3. Hysteroscopy. Penjelasannya katanya Dr. Taranissi ingin mengukur dan melihat keadaan rahim sebelum treatment dimulai untuk persiapan embrio transfer pada waktunya nanti. Banyak juga di forum yang bilang kalo Dr. T melakukan embrio transfer tanpa external scan, karena bisa ngebuat embrio berubah tempat. Jadi ada yang bilang itu gunanya Hysteroscopy sebelum treatment, karena Dr.T perlu mengukur dimana tempat terbaik untuk meletakkan embrio pada saat embrio transfer nanti.
  4. IVF Treatment cycle – long protocol; downreg, stimulation, egg collection, embrio transfer. Nah ini kayaknya bakalan seperti treatment2 sebelumnya. Bedanya mungkin obat stimulation akan di review dan di alter sampai 2 kali sehari tergantung blood test result. Ini yang ngebuat bakalan lebih intense dari cycle2 yang aku jalanin sebelumnya.
  5. Sesudah treatment kalau hasilnya positif, ada lagi serentetan usg dan blood test rutin sebelum week 11 untuk memastikan low chance of miscarriage.

Nah kurang lebih itu deh garis besar protokol yang dikasih Dr.R ke kita. Selanjutnya tinggal kita decide kapan kita siap buat mulai step 1. Selain itu, Dr. R juga precribe aku buat minum Metformin. Metformin ini sebenernya obat diabetes ringan. Tapi kata Dr.R sangat membentu buat memperbaiki kualitas sel telur. jadi sebaiknya dikonsumsi minimal 8 minggu sebelum mulai treatment.

Selesai dari dokter, kita mikir2 lagi dan decide buat go ahead sama treatment di ARGC. Pokoknya kita fokus aja pengen nyari dr yang terbaik.. rela aja deh walaupun nggak dapet fasilitas kinclong seperti di kebanyakan private clinic lainnya dan yakin aja semoga ini yang terbaik buat kita.

Sempet konsider buat menunggu IVF funding NHS. Tapi berdasarkan pengalaman terakhir kita, dari mulai initial appointment sampai akhirnya treatment kita nunggu 6-10 bulan terakhir kali pas sama NHS… jadi kita tetep mau go ahead dengan NHS sebagai back up kalau kita harus go through another cycle lagi sometime next year.

Starting another IVF treatment – Part 1

Setelah dipikir-pikir dan dipikir-pikir berkali kali… akhirnya kita decide buat mencoba IVF lagi. Kali ini decide buat mencoba IVF lagi di UK karena belum tau Miku bisa pulang ke jakarta atau nggak dalam waktu dekat, dan juga aku ngerasa lebih nyaman kalo pas IVF ditemenin suami.

Di UK kita udah pernah dapet jatah free IVF dari NHS tahun lalu dan dari peraturan2 yang aku baca, kayaknya jatah free nya cuma satu kali. Walaupun demikian, kita tetep coba ke GP dan mencoba request buat IVF free lagi dari NHS. GP kita nggak tau kalo kita bisa dapet free funding lagi apa nggak, tapi dia mau coba ngirim surat referal ke IVF unit di catchment area rumah kita kali2 aja kita dapet panggilan dan dikasih NHS funding lagi.

Sementara menunggu dari NHS, kita mencoba cari tau alternatif private clinic di UK. Salah satu tempat cari info adalah HFEA website. HFEA ini adalah badan yang meregulate seluruh IVF klinik di UK, dan mereka juga me-record rate keberhasilan setiap IVF klinik di UK. Setelah baca-baca kita decide untuk mencoba ke ARGC (Assisted Reproduction & Gynaecology Center) karena tingkat success rate nya yang sangat tinggi 66.7%, tertinggi diantara seluruh klinik IVF di UK. Aku langsung book untuk initial appointment, yang ternyata takes about 1-2 months to get the first available appointment. Sambil menunggu appointment, aku coba cari tau review orang-orang tentang ARGC dan gimana protocol treatment mereka sehingga mereka bisa punya success rate yang amat sangat tinggi gitu.

Setelah diliat-liat ternyata banyak juga review orang yang kecewa sama ARGC, bukan karena kompetensi dokter dan staff nya, tapi karena fasilitas kliniknya. Hampir semua setuju kalau kompetensi dokter & staff2nya dan juga personalised treatment yang diberikan merupakan sebagian besar alasan keberhasilan treatment mereka. Sedangkan fasilitas klinik yang didapatkan ngggak seperti kebanyakan private klinik di UK yang terlihat mewah, kinclong, udah kaya ke hotel instead of ke rumah sakit/klinik. Selain itu ARGC juga di rate sebagai klinik termahal. Kalau dibandingkan jasa IVF nya sebenernya lebih murah daripada kebanyakan private klinik IVF lainnya, however… yang ngebuat menjadi lebih mahal karena mereka sangat intense me monitor pasien, jadi mereka sering banget melakukan blood test dan usg. nah karena banyaknya blood test sama usg ini, bisa ngebuat bengkak total biaya treatment.

Selain itu ada juga beberapa pihak yang meng klaim kalo protocol yang dijalanin oleh Dr. Taranissi (dokter utama di ARGC) sangat kontroversial dan belum terbukti. Yang dimaksud sebagai protocol ini adalah imunology test yang di jalanin sebelum treatment. ada beberapa ahli yang berpendapat immunology test ini nggak perlu. Tapi Dr. T, tetap menggunakan test & treatment ini karena berdasarkan result di klinik nya, banyak sekali orang yang udah fail di klinik lain trus pindah ke ARGC dan menjalankan treatment buat immunology mereka, dan kemudian cycle mereka sesudah treatment ini, berhasil.

Walaupun denger banyak review miring gini, kita tetep decide buat coba datang ke initial appointment, trus baru nanti mikir lagi gimana.. karena honestly, kita kan mencari expertise dan dokter-dokternya… emang sih kadang fasilitas ngaruh ya berhubung bakal intense banget ke sana, tapi tetep fokussssss… nggak apa-apa fasilitas nggak kinclong asalkan dokternya okeh.

Dan sambil menunggu appointment di ARGC, ternyata datang surat dari Assisted Conception Unit (ACU) Queen Mary’s hospital, NHS hospital di catchment area rumah kita. Mereka request kita datang buat initial appointment awal bulan Dec… semoga pertanda baik kalo NHS funding kita di approve huhuhuhu!

Tips (& Tricks) ber-IVF*

Tadinya mau share pengalaman bayi tabung (IVF) di tulisan ini.. tapi setelah dipikir-pikir kalo ditulis semua bisa-bisa udah kaya cerber atau malah jadi novel sekalian saking panjang nya. Jadilah decide buat ngerangkum jadi Tips (& Tricks) aja.. yang singkat *errmm relatif*, padat *eeyy diusahakan*, dan jelas *hehe semoga* dan mungkin juga bisa berguna buat orang lain.

Sebelumnya, just to be clear.. I’m not  a doctor, specialist, or anything.. semua yang tertulis disini hanya pure berdasarkan pengalaman ku selama ngejalanin IVF 3 kali di tempat yang berbeda.

1. Persiapkan budget.
Treatment bayi tabung memang tidak memakan biaya yang sedikit. Proporsi biaya bayi tabung yang terbesar biasanya termakan oleh obat dan biaya operasi egg collection (pengambilan telur dari ovarium).

Untuk obat, berdasarkan pengalaman IVF yang di Indonesia, harga obat untuk stimulasi (namanya Gonal-F) adalah obat yang paling mahal dan paling utama dalam proses bayi tabung. Kalau mau menekan biaya obat, menurut aku ada dua cara: yang pertama pemilihan rumah sakit tempat kita melakukan treatment bayi tabung, dan yang kedua pemilihan tipe treatment bayi tabung yang mau kita jalanin. Untuk pemilihan tempat treatment, berdasarkan survey ku ada beberapa tempat treatment yang menjual obat nya dengan harga lebih murah. aku nggak tau kenapa bisa gitu dan nggak gitu ngerti tentang pricing harga obat oleh rumah sakit, tapi mungkin karena tempat treatment itu nggak me-markup harga obat terlalu tinggi. Jadi pemilihan rs atau tempat dimana kita mau melakukan treatment bayi tabung juga bisa berpengaruh ke budget.
Cara yang kedua adalah dengan pemilihan tipe treatment bayi tabung. Jadi treatment bayi tabung itu ada dua macam, short protocol dan long protocol. Untuk long protocol, pertama-tama dilakukan downregulation, baru kemudian stimulation. Untuk short protocol, langsung stimulation tanpa downregulation. Nah kalo tipe bayi tabung nya short protocol, bisa ngirit di obat-obat-an untuk downregulation karena tidak diperlukan. Howeverrr.. iya ada tapi nya 🙂 pilihan untuk long protocol atau short protocol biasanya didasarkan oleh keadaan medis pasien dan dokter yang menentukan. Jadi bukan pasien yang bisa nentuin sendiri mau long atau short protocol. Selama ini aku sih selalu diharuskan oleh dokter untuk long protocol karena keadaan medis aku yang ribett. Tapi dicoba ditanya lagi sama dokternya kalo memungkinkan buat short protocol, bisa lumayan hemat biaya di obat.
Oh iya ada satu lagi yang menurut aku bisa neken budget dari sisi obat. Obat yang paling mahal dan pasti dipake either short atau long protocol, namanya Gonal-F. Ini adalah suntikan yang disuntik setiap hari selama kurang lebih 7 sampai 14 hari *tergantung kasus pasien*. Waktu IVF di UK, dikasih nya Gonal-F Pen. Karena waktu itu baru pertama kali dan gratis juga, jadi ya nggak nanya-nanya harga dan juga pilihan lainnya. Tapi waktu IVF di jakarta, baru tau kalo Gonal-F Pen lebih mahal 3 juta rupiah per pen dibandingkan suntikan Gonal-F biasa. Satu Pen padahal isinya cuma 900IU. Biasanya selama treatment bayi tabung bisa sampai memerlukan dosis Gonal-F sampai 2500IU yang berarti butuh 3 Pen. Nah di kali 3 aja dah lumayan kan itu ngiritnya… Bedanya Gonal-F Pen, penggunaannya gampang banget kaya pulpen, jarumnya kecil banget dan bisa langsung buang, dan udah pasti kita bisa suntik sendiri di rumah. Nah sedangkan suntikan Gonal-F yang biasa dan lebih murah itu wujudnya seperti layaknya suntikan. Nggak bisa suntik sendiri, butuh bantuan orang lain buat suntik obat nya. Waktu aku di UK dulu pake nya Gonal-F Pen. Pertama-tama kali suntik masih excited, hari ke lima masih gpp, tapi pas hari ke sepuluh udah nggak bisa lagi suntik sendiri… kayaknya udah nggak tega lagi aja nyuntik-in badan sendiri.. mungkin juga karena pengaruh hormon yang lagi naik turun karena pengaruh obat stimulasi.. jadinya menye-menye.. 😀  akhirnya miku deh yang suntik-in juga. Moral of the story, sebenernya sama aja Gonal-F Pen atau Gonal-F Suntikan biasa. Karena at the end of the day kita tetep butuh bantuan orang lain buat suntikin. Jadi kalo dikasi perkiraan harga obat sama klinik, coba ditanya Gonal-F nya Pen atau biasa. Kalo bisa pake yang biasa, i personally recommend to use that instead of yang pen.. ngirit nya lumayaann deh..

Selain obat, yang makan budget juga adalah biaya operasi pengambilan sel telur. Nah kalo ini tergantung banget sama tempat dimana kita treatment dan biaya jasa dokternya (dan dr team operasi). Jadi coba aja di survey dan diliat-liat beberapa tempat treatment sebagai perbandingan.

Yang terakhir tentang budget, coba liat-liat paket promosi yang ditawarkan oleh klinik tempat treatment. Biasanya klinik nggak selalu punya paket promosi. Tapi kemarin aku beruntung banget pas ada paket dalam rangka hari ibu. Berdasarkan pengalaman ku kemarin, harga paket udah all in one dan jauh lebih miring daripada yang tidak paket.

2. Persiapkan mental, dan yang paling penting, hati.
Berdasarkan pengalamanku, yang paling penting kita harus siap kalo treatment bayi tabung nya gagal. Emang sih kita amat sangat berharap buat berhasil dan harus terus berpikiran positif buat berhasil. Tapi deep down harus tetep sadar bagaimanapun Yang di Atas yang nentuin. ini bukan masalah project kantor yang pasti bisa berhasil kalo kita kerja keras. Dokter cuma bisa mengusahakan yang terbaik buat kita, bagaimana pun tetep Yang di Atas yang nentuin. Ini berdasarkan pengalaman aku gagal IVF yang pertama… ya ampun sedihhhh banget rasanya dan sampe berhari-hari abis itu masih suka nangis. Itu karena aku nggak set ekspektasi dari awal kalo tetap ada kemungkinan nggak berhasil.

Trus disadari atau nggak, bakal ada pengaruh juga sama hubungan ke suami. Treatment bayi tabung (yang long protocol) kurang lebih 2 bulan lamanya. Dan selama dua bulan itu kita harus makan obat-obatan, melalui mulut atau hidung, dan juga disuntikkin setiap hari. Belum lagi harus ditusukin jarum untuk ambil darah karena hormon harus dipantau terus, dan juga USG transvaginal cukup sering untuk memantau perkembangan folikel (tempat sel telur). Dan disaat-saat itu suami literally nggak mesti ngapa-ngapain. Trus karena kita mungkin bawaan hormon, jadi biasanya bawaannya pengen marah-marah sama suami karena ngerasa kita harus ngejalanin all that pain sementara suami cuma duduk-duduk nganterin kita ke dokter aja. Nah hal-hal kecil kaya gini lebih baik disiapin dari awal… para suami harus ngerti-iiiiinnn istrinya banget..  jangan sampe berantem ditengah treatment dan malah mengganggu treatmentnya.. itu salah satu contoh nya doang yang aku inget hehehe… masih banyak sih yang lain.. tapi intinya dari awal sebaiknya disiapin.. suami-suami harus ngertiin istrinya nanti pas treatment bakalan ngerasa kaya naik roller coaster perasaanya.

Trus set juga ekspektasi keluarga dan temen-temen yang tau kalo kita lagi treatment. Berdasarkan pengalaman, pas waktu ditengah-tengah treatment kalo ditanya-tanyain sama keluarga atau teman rasanya dah mau naik darah aja… ngerasanya kok kayaknya mereka nggak ngerti banget kalo ini hal yang amat-sangat sensitif, ngerasanya kenapa sih pada mau tau urusan orang aja… padahal keluarga atau temen2 hanya berusaha buat perhatian dan perduli sama kita. Nah kalo aku dulu sebagian besar menyalahkan hormon 🙂 yang selalu bikin emosi dan menye-menye.. tapi setelah dipikir-pikir mungkin itu terjadi karena aku nggak set ekspektasi mereka.. seharusnya dari awal bilang aja kalo ini hal yang sensitif buat kita dan kalo nggak mau ditanya-tanya, ya bilang aja kalo ada kemajuan atau kabar baik pasti dikabarin. Yang paling susah sih biasanya orang tua. Ya iyalah.. mana ada orang tua yang nggak peduli sama anaknya.. makanya kerjaanya nanyaaa melulu hehehe… 😀

3. Persiapkan fisik.
Fisik juga penting.. kalo bisa selama proses bayi tabung jangan terlalu capek. Kalo perlo bedrest selama masa 2 weeks waiting. Trus jangan mengkonsumsi banyak kafein dan hindarin alkohol sama rokok. Pokoknya hidup sehat deh.. kalo bisa dimulai 3 bulan sebelum mau program bayi tabung. Berdasarkan personal experience, sebaiknya tetep olahraga tapi jangan terlalu  berat. Misalnya kalo treadmill biasanya lari, sekarang jalan aja… trus RPM juga jangan terlalu cape. Tapi olahraga is a must!! Soalnya selama treatment, badan kita dimasukin berbagai macam obat yang membuat kita tambah nafsu makan dan alhasil abis treatment biasanya badan menglembung. Kalo dibarengin sama tetep olahraga teratur, mudah-mudahan berat badan nggak terlalu naik. Treatment terakhir di jakarta, berat badan aku naik 4 kg dalam 2 bulan karena nggak dibarengin olahraga teratur.

4. Join network sesama ibu-ibu yang lagi treatment IVF juga
Nah ini sih.. hmmm relatif.. soalnya ada efek positif dan negatif juga kebanyakan ngobrol sesama peserta treatment. Disatu sisi kita kadang dapat banyak temen dan juga masukan yang berguna buat selama treatment, tapi di lain sisi kadang bisa ngebuat kita parno sendiri. Kaya pengalaman ku katanya ada yang bilang minum jus nanas bisa membantu proses implantasi embrio pada saat bayi tabung. Dah minum banyak-banyak, eh ada yang bilang di forum lain kalo nanas tidak baik bisa ngebuat keguguran.. nah udah deh bikin parno.. padahal dah terlanjur minum jus nanas banyak.. *sigh. Yah jadi di screen aja deh mana yang kira-kira make sense dan yang nggak.. dan kembali lagi ke logika, segala nya yang berlebihan nggak baik.. jadi kalo dibilang makan ini bagus, minum ini bagus… yah jangan dikonsumsi terlalu berlebihan.

Kalo mau join online network atau forum untuk orang-orang yang treatment IVF juga banyak kok. Bisa di search di Google. Kalo aku sekarang ini join di fertilityfriends.co.uk sama di bayi-tabung.com.

5. Berdoa dan Pasrah
Nah yang paling penting kalo semua usaha udah dijalanin ya tinggal pasrah aja dan berdoa. Pokoknya kita udah berusaha maks, dokter juga udah usaha, sekarang tinggal  gimana Yang di Atas aja. Banyak-banyak berdoa juga lumayan ngedistract kita dari pikiran-pikiran yang malah bikin stress. Daripada mikirin terus, bikin stress, mendingan berdoa aja. InsyaAllah didenger sama yang di Atas.

6. Jangan menyerah
Kalo ternyata belum berhasil, jangan nyerah… Kalo mau sedih, nangis.. ya nangis aja diabisin deh seharian buat nangis… tapi abis itu harus move on dan nggak boleh menyerah. Kalo kata orang, semakin berat ujian yang di kasih sama Allah, berarti kita mau ‘naik’ tingkat di mata Allah. Percaya aja kalo Allah pasti tau apa yang terbaik buat kita, dan insyaAllah kita diberi amanah diwaktu yang tepat dan barokah.
Pengalaman pribadi, yang bisa ngebuat aku bener-bener bangun lagi dan nggak menyerah pas tau kalo ada orang yang mencoba 10 kali IVF dan masih belum berhasil, tapi masih punya courage buat mencoba lagi.. masa kita yang baru nyoba sekali-dua kali udah mau nyerah 😀

Apalagi ya.. kayaknya itu doang sih yang keinget berdasarkan pengalaman-pengalaman kemaren.. maafkan kalo tujuan utama singkat, padat, dan jelas jadi tidak terpenuhi hihihi.. 😀 semoga berguna..

* Entah mengapa nggak gitu suka dengan terms ‘bayi tabung’, jadi lah judul tulisan ini pake terms ‘IVF’ instead of bayi tabung.  Kayaknya lebih manusiawi dari pada pake terms ‘bayi tabung’.